Branding Desa Bareng Braderkay

Membangun Brand desa merupakan Langkah awal dalam Nation Brand. Pada Tahun 1979, Jepang menginisiasi Program Issin Ippin Undo, atau biasa dikenal One Village One Product (OVOP). OVOP merupakan sebuah program merangkul satu desa untuk fokus dan mampu menghasilkan satu produk utama yang kompetitif sehingga mampu bersaing di Tingkat Global.

Branding Desa Barang Braderkay


Pada Selasa, 20 Oktober 2020 saya mengikuti sebuah webinar bertema One Village One Brand. Webinar ini diadakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember, Kementerian Desa, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Jember, UKM IKM Nusantara, dan Patria Indonesia Creative.

Dalam webinar ini, ada seorang pembicara yang menarik perhatian saya. Beliau adalah Braderkay, seorang Brand Enthusiasm, Creativefreak, dan Illustrator. Pengalaman dalam branding, beliau presentasikan melalui curriculum vitae. Mulai dari umkm, korporasi swasta, hingga Lembaga pemerintahan.

Braderkay meng-ilustrasikan jika rata-rata dalam 1 kota di Indonesia memiliki 200 desa, maka akan ada 200 brand yang akan muncul dari setiap kota. Studi kasus yang Braderkay angkat adalah Jember. Secara administratif, Kabupaten Jember terbagi ke dalam 31 kecamatan, 226 desa, 22 kelurahan, 959 dusun/lingkungan, 4.100 RW dan 13.786 RT. Artinya, ada 226 Brand yang potensial di Kabupaten Jember.

Branding Desa Barang Braderkay

 Mengapa dimulai dari Desa?

Dalam membangun sebuah brand, perlu digarap dari hulu ke hilir. Hulu adalah Nation Branding, Indonesia. Sementara hilir dimulai dari product brand, village brand, city brand, dan province brand. Brand adalah asosiasi lengkap yang memiliki value dan mampu menciptakan ikatan emosional. Program One Village One Brand adalah menjadikan Desa menjadi sebuah Brand.

 

Indonesia memiliki brand sejak dahulu kala. Kita mengenalnya dengan Kerjasama dan gotong royong. Ambil saja sebuah contoh tradisi Mappalette Bola. Tradisi ini merupakan tradisi dari Suku Bugis di Sulawesi Selatan. Sebuah tradisi pindah rumah dengan mengangkat rumah secara gotong-royong, dan memindahkannya ke tempat baru. Tradisi ini dilakukan oleh pria dan dipimpin oleh ketua adat setempat. Sementara wanita bertugas memasak untuk hidangan para pengangkat rumah.

 

Studi kasus lainnya ada di Jepang. Budaya samurai dan etos kerja yang tinggi selalu digaungkan masyarakat Jepang. Seperti dalam produksi film anime yang selalu menjaga nilai keluhuran Budaya Jepang.

 

Korea Selatan dengan K-POP merambah dunia dengan sangat cepat dan tak terkalahkan. Inilah Brand, sesuatu yang tidak bisa ditiru.

 

One Village One Brand

Dalam konsep ini, nama desa akan menjadi nama sebuah brand dimana di bawahnya akan menaungi produk entah itu berupa barang, olahraga, jasa, budaya, edukasi, maupun destinasi. Faktor yang juga tak kalah penting adalah sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang bersinergi.

 

Layaknya sebuah perusahaan, Brand desa akan dikelola secara professional

Dimulai dari menyamakan pola pikir (frekwensi), menyamakan goal, membangun budaya kerja, penguatan tanggung jawab, kualitas produk, marketing dan manajemen.

 

ONE Village ONE BRAND merupakan  salah satu bentuk optimasi dari budaya gotong royong dan Kerjasama

Dimana tiap desa bersama-sama bekerja membangun desanya dan saling mempromosikan brand desanya serta mempromosikan brand desa lainnya.

 

ONE Village ONE BRAND merupakan salah satu upaya untuk mengurangi urbanisasi

dimana tiap warga desa disibukkan untuk bekerja dan dibayar secara professional guna membesarkan brand desanya

 

ONE Village ONE BRAND adalah salah satu Langkah optimasi potensi desa yang mampu mendatangkan warga desa lain, warga bahkan negara lain

untuk datang dan berkunjung melihat keanekaragaman desa yang mungkin tidak mereka temui dari desa lain dengan goal besar from local to global

 

Tugas besarnya adalah menciptakan kolaborasi professional antara pemerintah daerah, perangkat desa warga desa dan professional dengan tujuan membangun Indonesia

 

Sebuah mimpi hanya akan menjadi mimpi jika tidak SEGERA dieksekusi

 

Dimulai dari Sebuah Desa

21 Komentar

  1. Harusnya bisa ya di Indonesia kalo dikait-kaitkan dengan program dana desa dari pemerintah. Tinggal desanya aja nih yang kreatif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget, perlu sinergi positif antara rakyat, aparatur desa dan pemerintah pusat :)

      Hapus
  2. Amin. Desaa-desa di Indonesia punya keunikan masing-masing yang bisa jadi pembeda untuk masing-masing brand. Nah langkah selanjutnya adalah di pekerjaan yang berlanjut dan konsisten. Semoga bisa!

    BalasHapus
  3. Oh sekarang ada One Village One Brand ya..kalau dulu mah aku tahunya program One Village One Product (OVOP) semoga semuanya sukses dan berdampak signifikan pada peningkatan.kesejahteraan masy

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenernya One Village One Brand konsep dari Penyelenggara Webinar. Mirip dengan OVOP, tapi ditambahkan dengan konsep Sustainable Development Goals (SDGs) 😊

      Hapus
  4. Semoga konsep bagus ini bisa direalisasikan. Karena problematik di negeri ini adalah eksekusi dan maintenance. Kalo ide sih, ngga kalah dengan negara lain.

    BalasHapus
  5. Waktu di Denpasar aku pernah berkunjung ke Tukad Bindu. Dan sepertinya branding desa ini sukses ya. Saya lihat di sana, selain memaksimalkan pemakaian lahan, penghijauan, juga menjual beberapa produk asli bikininan penduduk sana. Kalau urusan seperti ini Bali emang jagonya :)

    BalasHapus
  6. Bagus ini idenya, jadi setiap wilayah mengangkat keunikan yang menjadi ciri khasnya. Apalagi di Indonesia beraneka ragam suku dan budaya. Pasti akan banyak yang bisa diangkat. Sehingga setiap kita berkunjung ke suatu wilayah, kita memiliki pengalaman unik dan berbeda dengan daerah lainnya

    BalasHapus
  7. Kalau sebuah desa sudah bisa mandiri dan mempunyai produk, memang mungkin urbanisasi dalam jumlah besar terjadi.

    Seneng deh dengan idenya. Semoga bukan hanya jadi ide, tapi juga bisa dieksekusi dengan baik :)

    BalasHapus
  8. Masya Allah, ini ide brilian banget. Karena banyaknya penduduk di kampung saya terutama para lelakinya yang selalu merantau ke kota, sejak kecil saya juga sudah berfikir bahwa jika ada satu produk dari kampung kami yang bisa diolah dan diberdayakan mungkin para keluarga akan hidup bersama sepanjang waktu dan tidak perlu datang ke kota. Semoga saja ide ini segera terwujud.

    BalasHapus
  9. Bagus idenya setiap desa memiliki keunikan masing-masing untuk jadi desa wisata, yang penting berkesinambungan, jangan lekas bosan ya mengelolanya..

    BalasHapus
  10. Bagus banget mas idenya, soalnya desa2 terutama yang tradisional gtu biasanya punya kekhasan produk apa gtu. Itu kalau dipasarkan pakai ilmu yang lbh baik dr sekarang bisa berefek positif juga ya. Namun dalam prosesnya emang perlu edukasi, krn kadang ada masyarakat yg gk mau bergerak berubah.

    BalasHapus
  11. Setujuu.. Sebuah mimpi memang harus dieksekusi ya supaya jadi kenyataan. Kalau enggak, cuma akan jadi mimpi terus 😁

    Anw, saya suka banget sama idenya nih, one village one product. Jadi bisa menghidupkan ekonomi desa juga ya ini yaa

    BalasHapus
  12. Setuju sik ini. Mengingat ragam desa di Indonesia punya keunikan dan hasil khasnya sendiri. Branding penting, dan harus diseriusi dari hulu ke hilir.
    seperti: Batik-Pekalongan
    Tonun-Toba.

    BalasHapus
  13. Mesti bener2 digarap diawasi secara serius ini kalau mau berkembang bagus. Dengan begini secara perlahan mengangkat ekonomi dan intelegensi warga desa tersebut ya.

    Nice banget ini kalau memang berjalan sebagaimana mestinya.

    BalasHapus
  14. OVOP, tapi utk di Indo emang barunakn dimulai atau masih dlm rangka mewacanakan mungkin ya?

    BalasHapus
  15. setuju banget dengan penyataan "sebuah mimpi hanya akan menjadi mimpi jika tidak SEGERA dieksekusi". mantap kak :D

    BalasHapus